JEJAK LAMPAU CANDI CANGKUANG

Posted on January 13, 2010

0


Setiap bangsa memiliki sejarahnya masing-masing dalam bentuk sejarah nasional, selain itu pula didukung oleh sejarah yang muncul dari tiap-tiap daerah yang disebut sejarah local. Penggalian sejarah local di Indonesia sangat jarang sekali dan kurang banyak diminati oleh para ahli sejarah di Indonesia.

Oleh karena itu, sebaiknya setiap daerah mempopulerkan atau memperkenalkan sejarah dari masing-masing daerahnya, seperti misalnya tulisan tentang sejarah candi cangkuang yang berasal dari propinsi jawa barat.

Candi cangkuang diambil dari nama sebuah Desa Cangkuang berasal dari nama sebuah pohon yang bernama pohon cangkuang (Pandanus Furcatus) yang banyak terdapat disekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad. Konon menurut cerita masyarakat setempat, Embah Dalem Arif Muhammad dan teman-temannyalah yang membendung daerah ini sehingga terbentuklah sebuah danau yang dinamakan Situ Cangkuang.

Embah Dalem Arif Muhammad berasal dari kerajaan Mataram dari Jawa Timur dia datang bersama rombongannya untuk menyerang VOC di Batavia dan menyebarkan agama islam, salah satunya adalah desa Cangkuang yang saat itu penduduknya telah menganut agama Hindu. Didesa tersebut terdapat sebuah candi Hindu yang dinamakan candi Cangkuang.Meskipun penduduk didesa tersebut telah memeluk agama islam namun mereka masih menjalankan sebagian ajaran hindu.

Desa Cangkuang terletak diantara kota Bandung dan Garut yang berjarak ?2 km  dari kecamatan Leles dan 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Kondisi lingkungan di Kawasan ini memiliki kualitas lingkungan yang baik, kebersihan yang cukup terjaga dan juga bentang alam yang baik.

Kegiatan wisata yang biasa dilakukan di kawasan cagar budaya Candi Canngkuang yaitu, melihat pemandangan, memancing, berjalan-jalan, berziarah dan melakukan penelitian tentang kebudayaan. Wisatawan yang biasanya datang bekunjung kekawasan tersebut kebanyakan wisatawan nusantara yang berasal dari Garut, Bandung, Bogor dan Jakarta, namun ada juga wisatawan manca negara yang berasal dari Belanda, Jerman, Perancis dan Jepang. Wisatawan yang berkunjung rata-rata perbulan berkisar 3000 orang. Flora dan fauna dominan terdapat dikawasan ini adalah teurep, beringin, randu, ayam dan kambing. Sedangkan flora dan fauna yang berbahaya adalah pohon renggas dan ular sawah.

Makna bijak:

Dengan belajar dan mengambil makna sejarah,

menjadikan kita sebagai manusia yang bijak,

agar tidak terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya

dan mempersiapkan diri pada masa yang akan datang dan lebih baik

Posted in: Uncategorized