Dampak negarif dan positif gunung merapi meletus

Posted on November 28, 2010

0


Merapi adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.

Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini

Akibat dari letusan ini tentu saja menimbulkan dampak bagi masyarakat Yogyakarta khusus nya masyarakat yang berda dekat dengan gunung tersebut, meletusnya gunung tersebut memberkan dampak yang positif maupun dampak negative seperti di jelaskan di bawah ini

Berikut beberapa kerugian (dampak negative)  yang diakibatkan dari meletusnya gunung merapi:

A. Sektor pertanian:

Sub sektor tanaman holtikultura semusim, perkebunan salak, perikanan, dan peternakan terganggu dengan prakiraan total kerugian mencapai Rp 247 miliar terutama pada salak pondoh yang rugi Rp 200 miliar.
Terdapat sekitar 900 UMKM di Sleman dari 2.500 UMKM untuk sementara berhenti total. Kebanyakan usahanya adalah peternakan, holtikultura dan kerajinan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Kamis (11/11), jumlah ternak yang mati akibat erupsi Merapi mencapai 1.961 ekor. Dari jumlah itu, sapi perah yang mati mencapai 1.780 ekor, sapi potong 147 ekor, kambing atau domba 34 ekor. Sementara selebihnya kebanyakan ditampung di Tirtomartani Kecamatan Kalasan dan Wedomartani, serta Kecamatan Ngemplak.

B. Sektor Perikanan:

Di sektor perikanan kerugian diperkirakan cukup besar, yaitu sekitar 1.272 ton.

C. Sub sektor transportasi:

Transportasi udara: Penutupan Bandara Adisucipto yang ditetapkan oleh Departemen Perhubungan sampai dengan tanggal 15 November 2010 menyebabkan jumlah penerbangan dan jumlah penumpang pesawat turun. Terdapat 23 penerbangan domestik dan 3 penerbangan internasional perhari terhenti atau diperkirakan terdapat pengurangan jumlah penumpang sekitar 58.300 penumpang selama 11 hari (per hari rerata 5.300 penumpang). Bahkan, setelah bandara dibuka, diperkirakan penerbangan masih belum optimal.
Transportasi darat: transportasi darat terpukul karena jumlah kunjungan wisatawan turun drastik. Rental mobil yang biasanya ramai mengalami pukulan cukup berat.

D. Sektor pariwisata:

Kunjungan wisatawan berkurang ataupun sebagian menunda, banyak event yang semula akan dilaksanakan di Yogyakarta banyak yang dialihkan pelaksanaannya (nasional maupun internasional), tingkat hunian hotel turun 70% dari rata-rata tingkat hunian 70% menjadi 30% dan ada yang kurang.

Hal ini memberikan dampak pada penurunan penjulan produk kerajinan, usaha kuliner, usaha transportasi turun, dan lainnya.

E. Sektor jasa: lebih terkait dengan penurunan kinerja di sektor PHR.

F. Sektor konstruksi : terdapat 2.271 rumah rusak.

 

kemudian ada juga Efek Negatif Abu Letusan Gunung Bagi Kesehatan :

AbU vulkanik akibat letusan Gunung Merapi terus beterbangan ke berbagai daerah di sekitar gunung tersebut. Masyarakat sebaiknya mewaspadai abu ini karena bisa mengganggu kesehatan pernapasan, mata, dan kulit.

Abu vulkanik dari Gunung Merapi yang terbawa angin ke berbagai arah hingga banyak membahayakan warga sekitar, terutama pada kesehatan. Abu vulkanik sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan. Nah, jika posisi seseorang dekat dengan abu vulkanik yang kemudian masuk ke dalam pernapasan cukup banyak, maka bisa membuat saluran pernapasan membengkak karena efek dari panasnya udara. Yang terjadi, bisa saja sesak napas, bahkan sampai mengancam jiwa. Secara umum, efek abu vulkanik pada paru akan menyebabkan iritasi karena bersifat asam.

iritasi yang terjadi adalah dari saluran pernapasan atas hingga bawah, seperti batuk-batuk atau bersin. Namun jika fasenya lebih lanjut, maka bisa menyebabkan sakit tenggorokan, timbunan dahak, sesak napas, juga kekambuhan pada penyakit paru apabila seseorang sebelumnya telah memiliki riwayat penyakit pernapasan. “Penyakit tersebut bisa terjadi, jika kejadiannya terus-menerus dan bertahun-tahun,

About these ads
Posted in: Uncategorized